Sebuah ironi dan catatan gelap bagi Jambi, sebuah provinsi yang ada ditengah-tengah pulau sumatera. Lebih ironi, pengguna judi online atau disapa JUDOL adalah yang juga orang atau individu justru penerima BANSOS.
Pertanyaan yang menggelitik, bisakah para pecandu JUDOL ini dibantu agar tidak memiliki ketergantungan yang akut???
Hal seperti ini pernah dibahas oleh psikolog Ridwan di Tribun Jambi.
Pecandu judi online disebut memerlukan kesadaran sendiri
agar bisa terlepas dari kecanduannya.
Pernyataan itu disampaikan Psikolog Jambi, Ridwan bahwa kecanduan biasanya
bisa bermula dari seseorang yang hanya ingin coba-coba.
Walau demikian, rasa penasaran akan terus memasuki alam
bawah sadar mereka.
Terlebih ketika pelaku judi online sudah
mendapatkan satu kali kesempatan yang dianggap menang.
Hal itu membuat mereka penasaran untuk terus mencoba agar
selalu menjadi pelaku judi yang menang.
"Padahal kata menang itu hanya halusinasi bagi mereka.
Itu hanya permainan yang tidak akan pernah dimenangkan," ujarnya.
Para pelaku judi online akan terus terpuruk sampai mereka
benar-benar merasa hancur sendiri.
Rasa hancur mereka alami sampai banyak orang yang tidak
menginginkan kehadirannya, membuat semakin terpojokkan.
Di saat setiap orang yang mereka temui tidak lagi memiliki
rasa peduli dan simpati dan mereka merasa sendiri, di situlah penyesalan mulai
muncul.
Biasanya penyesalan yang muncul itulah yang membuat mereka
bisa mulai memperbaiki diri.
Karena tidak ada satupun pihak eksternal bisa membuat mereka
sadar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Hanya mereka sendiri yang bisa mengubah kebiasaan telah melekat itu.
Tetapi jangan sampai orang terdekat mereka, justru memberi
semangat dengan cara memojokkan.
Seperti kalimat "itulah kenapa kemarin nggak mau dengar
kata aku".
Itu kalimat yang tidak betul untuk diucapkan dan membuat mereka akan kembali ke masa suram itu..
Jadi, berikan dukungan positif bagi para pecandu JUDOL agar mereka meninggalkan kebiasaannya tanpa harus selalu disalahkan. Buka pemikiran mereka, kalau mereka hanya terjebak oleh angan-angan kemenangan yang mereka buat sendiri. Pelaku JUDOL selamanya akan kalah dan kalah itulah yang semestinya ada dipemikiran mereka supaya bisa terhindar dari JUDOL.
Pastinya pula, mereka butuh kegiatan pengalihan agar pemikiran tentang JUDOL tidak lagi memasuki area daya khayal mereka. Kalau perlu mereka jangan lagi membuka HP yang banyak aplikasi bermunculan untuk menggugah otak mereka kembali bermain JUDOL. Mereka cukup menggunakan HP jadul yang hanya untuk menelepon saja yang tentunya bisa menyelamatkan mereka dari kecanduan.
Mungkin, perlu pula diperhatikan agar pecandu JUDOL ini juga tidak terjebak pada pinjaman online atau PINJOL karena ini pula yang membuat masalah semakin bertambah dengan adanya utang yang terus menerus akan ditagih kepada mereka. Terkadang pula, utang ini membawa kembali mereka kepada permainan JUDOL dengan harapan bisa memenangkan JUDOL untuk membayar hutang (lagi-lagi sebuah angan-angan) yang membuat mereka terpuruk dan terperosok lebih dalam.
Mari sama-sama kita pantau dan ingatkan kepada anak-anak kita untuk menjauhi JUDOL karena korbannya sudah banyak sambil pula tak kalah kita berharap agar pemerintah dapat menghapus situ-situs online perjudian yang terkadang masuk melalui komen-komen dimedia sosial serta iklan-iklan yang ada.
Artikel ini telah tayang di TribunJambi.com dengan judul Analisis Psikologi Ungkap Judi Online dan Ilusi Kemenangan, Ini Sebabnya Pejudi Selalu Kalah, https://jambi.tribunnews.com/2024/06/17/analisis-psikologi-ungkap-judi-online-dan-ilusi-kemenangan-ini-sebabnya-pejudi-selalu-kalah.
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah yang bijak