'Melayu Jambi Yang Penuh Pesona"
Jambi merupakan salah satu Provinsi yang ada di Sumatera dan merupakan daerah yang masih menjunjung adat istiadatnya terutama di daerah pedesaan. Dengan kemajuan jaman yang bisa saja menggerus budaya dan adat istiadat suatu daerah, tak terkecuali Provinsi Jambi dengan ibu kota nya sama dengan nama Provinsi nya, yakni ibu kota "Jambi".
Adat istiadat Melayu Jambi sangat kaya dan beragam, mencerminkan identitas dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jambi. Berikut beberapa aspek penting dalam adat istiadat Melayu Jambi, berupa:
- Pernikahan Adat: Pernikahan adat Jambi merupakan salah satu contoh keberlanjutan budaya Melayu di Jambi. Rangkaian upacara adat yang kaya akan simbol dan makna menjadi bagian penting dalam mempertahankan warisan budaya Melayu.
- Sistem Masyarakat: Masyarakat Melayu Jambi memiliki sistem masyarakat yang erat hubungannya dengan Kesultanan Jambi dulu. Mereka memiliki pengelompokan suku atau kalbu, dengan lingkungan kesatuan hidup setempat yang terkecil disebut dusun.
- Gotong Royong: Gotong royong merupakan salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Melayu Jambi. Mereka memiliki semangat kerja sama dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.
- Kepemimpinan: Kepemimpinan dalam masyarakat Melayu Jambi dipimpin oleh seorang penghulu dusun atau pesirah. Mereka memiliki peran penting dalam memimpin dan mengatur kehidupan masyarakat.
- Bahasa: Bahasa Melayu Jambi merupakan salah satu aspek penting dalam adat istiadat Melayu Jambi. Bahasa ini masih satu rumpun dengan bahasa Melayu lainnya di Nusantara.
- Kesenian: Kesenian Melayu Jambi juga merupakan salah satu aspek penting dalam adat istiadat Melayu Jambi. Mereka memiliki berbagai bentuk kesenian, seperti tarian, musik, dan lain-lain.
- Upacara Kepercayaan Tradisional: Upacara kepercayaan tradisional merupakan salah satu aspek penting dalam adat istiadat Melayu Jambi. Mereka memiliki berbagai upacara kepercayaan yang masih dilakukan hingga saat ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Melayu Jambi masih mempertahankan adat istiadat mereka dengan baik. Mereka memiliki semangat untuk melestarikan warisan budaya Melayu dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka.
Jambi sendiri memiliki juga jenis pakaian adat, pakaian adat Jambi memiliki keunikan dan kekayaan budaya yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu. Berikut beberapa jenis pakaian adat Jambi:
Pakaian Adat Pengantin:
- Pengantin pria menggunakan Teluk Belango, yaitu baju lengan panjang berkerah bundar dengan kancing di bagian depan, celana panjang, dan sarung songket yang dililit di pinggang. Aksesoris yang digunakan adalah tanjak (penutup kepala khas Melayu) dan sabuk emas.
- Pengantin wanita mengenakan Baju Kurung Tanggung, yaitu baju berlengan tiga perempat dengan kain songket bermotif khas, serta siger (mahkota berwarna emas) sebagai simbol status dan kebangsawanan. Aksesoris lainnya termasuk kalung bertingkat, anting besar, dan gelang emas.
Pakaian Adat Laki-laki:
- Baju Kurung Cekak Musang, yaitu baju berkerah tegak dengan kancing depan, biasanya dibuat dari bahan sutra atau katun dengan warna-warna mencolok. Dipadukan dengan kain sarung songket yang dikenakan di pinggang.
- Celana panjang dan sarung songket digunakan untuk menambah kesan formal dan elegan.
Pakaian Adat Perempuan:
- Baju Kurung Tanggung, yaitu baju dengan lengan pendek atau tiga perempat, biasanya dipadukan dengan kain songket bermotif khas Jambi. Digunakan dalam acara pernikahan atau upacara adat lainnya.
- Baju Kurung Labuh, yaitu baju yang lebih panjang, mencapai lutut atau lebih, umumnya digunakan dalam acara resmi atau keagamaan dengan warna yang lebih lembut.
Aksesoris pelengkap pakaian adat Jambi antara lain:
- Tengkuluk (penutup kepala)
- Kalung, seperti kalung rantai sembilang, kalung bertingkat, dan kalung tapak
- Gelang, seperti gelang kano, gelang buku beban, dan gelang ceper
- Cincin, seperti cincin kijang dan cincin pacat kenyang
- Selempang Songket, yaitu kain songket yang dikenakan di bahu atau pinggang sebagai pelengkap pakaian adat
Pakaian adat Jambi memiliki filosofi yang mendalam, seperti :
- Warna emas melambangkan kebesaran, kejayaan, dan kemuliaan
- Motif songket menggambarkan keseimbangan antara kehidupan manusia dengan alam sekitar
- Siger dan mahkota pengantin wanita melambangkan keanggunan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab seorang istri.
Pada "Malay Studies" disampaikan bahwa perkembangan hukum adat melayu Jambi di dalam masyarakat Indonesia tergambarkan dalam 3 bagian yaitu:
Masa Animisme dan DinamismePada masa ini Hukum adat melayu berkembang di zaman sebelum masuknya Agama Hindu-Budha, kepercayaan masyarakat pada saat itu masih bergantung pada roh-roh nenek moyang dan benda-benda yang mereka anggap keramat. Pada saat ini hukum adat melayu di pimpin oleh Johor. Johor merupakan tokoh-tokoh masyarakat yang cerdas dalam segi berpikir dan memecahkan masalah, karena pada masa ini mereka belum mengenal agama maka dari itu mereka menggunakan akal saja apabila terjadi suatu pelanggaran sosial.Masa Hindu dan BuddhaSetelah masuknya agama Hindu-Buddha maka adat Melayu Jambi menjadi lebih berwarna karena adanya akulturasi antara kebudayaan melayu Jambi dan kebudayaan agama Hindu-Buddha yang menyebabkan adat tersebut memiliki landasan yang kuat yaitu berupa agama dan adat Melayu Jambi pun berubah gelar menjadi taliti. Yang di maksud taliti yaitu mengubah segala ketentuan adat yang tidak sesuai dengan aturan agama diubah menjadi aturan-aturan agama yang dibawa oleh Hindu-Buddha.Masa IslamAdat Basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah. Pada masa inilah Hukum Adat Melayu diberi gelar Adat nan Sebenar Adat, karena semua peraturan yang telah dibuat dari masa Jomhor hingga Hindu-Budha disempurnakan menggunakan Syariat Islam. Bagaimana lahirnya Hukum adat melayu Jambi? Menurut pakar hukum negara bapak Muchtar Agus Cholif yang juga menjabat sebagai wakil ketua lembaga adat melayu Jambi, mengatakan bahwa, “Sebelum masuk ke jawaban alangkah baiknya kita pahami dulu apa itu ADAT, adat secara ilmiah ada 3 pengertiannya, yang pertama Adat dalam artian Budaya yaitu perbedaan pakaian, tradisi, yang secara turun temurun dilakukan masyarakat tersebut, yang kedua adat dalam artian Etika atau sopan santun suatu daerah yang berfungsi sebagai cara yang lebih halus untuk menjalin hubungan kekeluargaan, yang ketiga yaitu Hukum Adat, adat dalam arti hukum ini yaitu setiap persoalan yang ada perintah dan larangan bila dilanggar akan dihukum dan inilah yang sama rata diterapkan dalam provinsi Jambi sekarang, biarpun ada beragam macam adat di Jambi tetapi Hukum Adat ini lah yang sama penerapannya di Provinsi Jambi. ” (Supian dkk, 2018).Dasar Hukum Adat Bagi Masyarakat Melayu Jambi
Landasan dasar hukum adat Jambi adalah yang disebut dengan induk undang nan lima (Supian dkk, 2018) Yaitu:
- “Titian Tereh Batanggo Batu” maksud dari induk undang yang pertama ini yaitu, hukum adat melayu Jambi bersumber dari Hadist Rasulullah (titian tereh) yang mengacu pada Al-Quran (batanggo batu) yang di sebut “Syarak” dijadikan tutunan utama sebagaimana diungkapkan dalam seloko adat melayu Jambi “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.”, “ Syarak Mengato Adat Memakai.”
- “Cermin nan Idak Kabur” maksud dari induk undang yang kedua ini yaitu ketentuan hukum yang sudah berlaku atau sudah ada, berasal dari masa berabad-abad silam yang telah terbukti kebenarannya dalam mengayomi masyarakat dan diikuti dari generasi ke generasi. Dasar kedua ini mengacu pada seloko adat melayu yang berbunyi “Jalan Berambah Yang Ituruti, Baju Berjahit Yang Dipakai.”
- “Lantak nan Idak Goyah” lantak atau tonggak adalah sebatang kayu atau beton yang salah satu ujungnya ditanamkan atau dimasukkan ke dalam tanah untuk dijadikan pedoman atau penahan sesuatu. Maksudnya adalah dalam menentukan hukum dan melaksanakannya, orang yang berwenang harus jujur, tidak pilih kasih, memiliki mental dan tekad yang teguh sehingga keadilan bagi semua orang dapat ditegakkan. Sebagaimana digambarkan dalam seloko adat melayu “beruk dirimba disusukan, anak dipangku diletakan.”, “tibo dimato jangan dipicingkan, tibo diperut jangan dikempeskan.”
- “Nan Idak lapuk Keno Ujan, Idak Lekang Keno Panas” maksud dari induk undang yang keempat ini adalah berpegang pada kebenaran yang tidak berubah. Sebagaimana digambarkan dalam seloko adat “Dianjak Layu, Diumbat Mati.”
- “Kato Seiyo” maksudnya adalah kata seiya, kesepakatan, mufakat. Artinya setiap persoalan yang rumit akan diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat. Hasilnya menjadi pegangan bersama. Sehingga pembicaraan yang sudah dimusyawarahkan dan dimufakati dangan kato seiyo akan diperoleh kesepakatan yang harus diakui dan dipatuhi bersama seperti digambarkan dalam seloko adat “Elok Air Karena Pembuluh, Elok Kato Karena Mufakat.”, “Bulat Boleh Digulingkan, Pipih Boleh Dilayangkan.”
Tentu budaya adat Jambi ini menjadi sesuatu yang semestinya kita lestarikan bersama sebagai bagian dari khasanah budaya bangsa Indonesia yang sangat penting untuk dapat dipelajari dan dipahami khususnya bagi generasi muda.
Mempelajari budaya Jambi sangat penting karena beberapa alasan:
- Mempertahankan Identitas Budaya: Budaya Jambi memiliki keunikan dan kekayaan yang perlu dipertahankan dan dilestarikan. Dengan mempelajari budaya Jambi, kita dapat memahami dan menghargai identitas budaya yang dimiliki oleh masyarakat Jambi.
- Meningkatkan Kesadaran Budaya: Mempelajari budaya Jambi dapat meningkatkan kesadaran budaya masyarakat tentang pentingnya melestarikan warisan budaya. Hal ini dapat membantu masyarakat Jambi untuk lebih menghargai dan mempertahankan budaya mereka.
- Mengembangkan Pariwisata: Budaya Jambi dapat menjadi salah satu daya tarik wisata yang penting. Dengan mempelajari budaya Jambi, kita dapat memahami potensi budaya yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pariwisata di Jambi.
- Meningkatkan Kualitas Hidup: Mempelajari budaya Jambi dapat membantu masyarakat Jambi untuk memahami nilai-nilai dan norma yang terkandung dalam budaya mereka. Hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jambi dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang positif.
- Menghormati Warisan Leluhur: Mempelajari budaya Jambi merupakan salah satu cara untuk menghormati warisan leluhur dan mempertahankan tradisi yang telah diwariskan.
Dengan mempelajari budaya Jambi, kita dapat memahami kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Jambi dan meningkatkan kesadaran budaya untuk melestarikan warisan budaya.
*Dokumentasi RT 24 : dari berbagai sumber*
.jpg)
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah yang bijak